Jumat, 16 Maret 2018

Operasi Kanker Ini Justru Dilakukan Dengan Mematikan Lampu

Operasi Kanker Ini Justru Dilakukan Dengan Mematikan Lampu
Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

DokterSehat.Com– Biasanya, prosedur operasi dilakukan dengan lampu yang terang. Tujuannya adalah agar dokter bedah bisa melihat dengan jelas bagian mana yang perlu diangkat. Namun, operasi yang dilakukan di Hospital of the University of Pennsylvania ini justru dilakukan dengan mematikan lampu. Kok bisa?

Photo Source: AP

Dikutip dari Fox News, di dalam kegelapan, dada pasien seperti menyala dan di area sekitar jantung terlihat seperti memendarkan cahaya berwarna pink keunguan. Ternyata, cahaya ini berasal dari semacam pewarna khusus yang memancarkan cahaya. Pewarna ini bisa mendeteksi kanker yang tersembunyi dan tidak bisa dilihat oleh mata biasa.

Dr. Sunil Singhal dari University of Pennsylvania menyebutkan bahwa dengan memakai pewarna khusus yang bisa bercahaya ini, maka dokter bisa mendeteksi sel kanker dengan lebih jelas, bahkan meskipun sel ini tersembunyi. Bahan pewarna yang bisa memancarkan cahaya berpendar ini masih dalam tahapan percobaan dan sepertinya akan disetujui penggunaannya oleh Food and Drug Administration (Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat).

Sepuluh tahun lalu, Dr. Singhal mengoperasi seorang siswa yang menderita kanker paru. Operasi selesai dilakukan namun ternyata masih ada sel kanker yang tersembunyi dan tidak Ia angkat. Siswa tersebut pun meninggal tak lama setelahnya. Sang dokter sangat terpukul dengan kejadian ini.

Saat bermain dengan anaknya, Dr. Singhal terkesima dengan stiker yang bisa memancarkan cahaya saat gelap. Ia pun berpikir jika mungkinkah hal ini bisa membuat sel-sel kanker juga bercahaya.

Ia pun kemudian mencari informasi tentang zat pewarna benama ICG yang memang sudah lama dipakai dalam dunia medis. Jika diinjeksikan pada tubuh pasien sehari sebelumnya dalam dosis yang banyak, maka zat pewarna ini akan terkumpul di sel kanker dan membuatnya bercahaya jika terpapar sinar infra merah.

Dr Sunghil pun kemudian menggunakan zat pewarna ini pada Ryan Ciccozi, pria berusia 45 tahun yang juga harus dioperasi karena kanker. Hasilnya adalah, Ia bisa menemukan banyak sekali sel-sel kanker tersembunyi yang perlu diangkat. Operasi pun bisa dilakukan dengan jauh lebih baik dari sebelumnya.

Di masa depan, penggunaan zat pewarna ini sepertinya akan semakin banyak dilakukan, khususnya pada penderita kanker payudara dan kanker lainnya.

Kemajuan teknologi kesehatan semakin keren saja, ya Sobat Sehat?



Selain sebagai media informasi kesehatan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Kamis, 15 Maret 2018

Terkena Infeksi Sinus, Pemuda 13 Tahun Ini Meninggal

Terkena Infeksi Sinus, Pemuda 13 Tahun Ini Meninggal
Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

DokterSehat.Com– Marquel Brumley, remaja 13 tahun dari Michigan, Amerika Serikat, meninggal dunia setelah terkena infeksi sinus. Kematiannya terjadi hanya beberapa minggu setelah dokter memintanya pulang ke rumah karena menganggap virus ini tidak berbahaya bagi kesehatannya.

Photo Source: NY Daily News

Dikutip dari NY Post, Marquel mengalami gejala flu dan migrain parah bulan lalu. Ia pun dilarikan ke bagian gawat darurat di Rumah Sakit Mt. Morris. Meski sudah mendapatkan penanganan medis, kondisinya sama sekali tidak membaik. Sakit kepalanya tidak kunjung mereda sehingga orang tuanya pun kembali melarikannya ke unit gawat darurat. Sayangnya, dokter yang menanganinya tidak tahu apa penyebab dari masalah kesehatan ini.

Setelah mendapatkan pemindaian dengan MRI, diketahui bahwa terdapat infeksi sinus yang menyebar di otaknya. Infeksi ini memicu beberapa penggumpalan darah yang memicu penyumbatan aliran darah dan dua kali stroke. Marquel pun kemudian mendapatkan operasi di Ann Arbor Hospital demi mengatasi infeksi ini. Sayangnya, Ia kemudian berada dalam kondisi koma.

Penggumpalan darah pada kepalanya ternyata tak kunjung mengecil meski sudah ditangani oleh tenaga medis. Gumpalan ini juga memberikan tekanan yang terlalu besar pada otak sehingga otaknya pun tak lagi mendapatkan kadar oksigen yang cukup.

Empat pekan setelah kunjungan pertamanya ke dokter, Marquel dinyatakan meninggal dunia.

Cukup banyak orang yang menganggap infeksi sinus sebagai masalah yang tidak berbahaya. Padahal, jika sampai masalah kesehatan ini terjadi, penderitanya bisa kesulitan untuk melakukan aktivitas harian. Bahkan, sebagaimana kasus yang dialami oleh Marquel, infeksi ini bisa saja menyebar ke otak dan akhirnya bisa memicu masalah kesehatan yang serius dan mengambil nyawa.

Sobat Sehat tidak mengalami masalah pada sinus kan?



Selain sebagai media informasi kesehatan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Bahaya Reality Show di Televisi

Bahaya Reality Show di Televisi
Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

doktersehat-keluarga-nonton-tv

DokterSehat.Com– Belakangan ini media sosial dihebohkan dengan “perang” komentar antara artis seperti Dedy Corbuzier dan artis-artis lainnya perihal tayangan yang dianggap “alay”. Namun, sebuah penelitian justru menghasilkan fakta bahwa acara reality, acara-acara yang melibatkan orang-orang yang menunjukkan kehidupan nyata, justru bisa tidak sehat bagi penonton ataupun peserta yang terlibat.

Dikutip dari Healthline, seorang mantan peserta acara reality “Master Chef” bernama Jessie Glenn menyebut salah satu rekannya dalam acara tersebut, Joshua Marks, mengalami gangguan psikis yang sangat parah hingga memutuskan untuk bunuh diri setahun setelahnya.

Dalam acara reality, kita tentu pernah melihat konflik antar peserta yang membuat acara tersebut menjadi semakin menarik. Padahal menurut Jessie, hal ini bisa menyebabkan stres traumatik dalam jangka waktu yang lama.

Kerap dianggap sebagai representasi kehidupan modern, dalam realitanya reality show juga sudah didesain sedemikian rupa agar bisa menyediakan drama atau konflik antar pesertanya. Yang menjadi masalah adalah, pesertanya terkadang tidak tahu ada orang-orang yang sengaja memicu konflik tersebut dan akhirnya bisa menyebabkan stres atau trauma tersendiri.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Girl Scounts Organization pada tahun 2011, disebutkan bahwa lebih dari separuh gadis muda menganggap acara reality sebagai sesuatu yang nyata. Bagi anak-anak, mereka bahkan lebih sulit untuk membedakan mana yang dianggap nyata dan yang tidak nyata dari apa yang mereka lihat. Hal ini membuat mereka seperti merasa lebih superior dari orang lain.

Banyak peserta reality show yang ditertawakan, ditolak, atau bahkan menjadi korban perundungan dan hal ini bisa membuat anak-anak atau generasi muda yang menontonnya cenderung lebih agresif.

Melihat adanya fakta ini, siapa saja, khususnya orang tua yang memiliki anak-anak, selalu mengendalikan apa yang ditonton keluarganya di televisi dan memastikan bahwa tidak acara tidak mendidik yang ditonton.

Sobat Sehat sering menonton acara reality tidak?



Selain sebagai media informasi kesehatan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Air Botol Kemasan Ternyata Terkontaminasi Partikel Plastik

Air Botol Kemasan Ternyata Terkontaminasi Partikel Plastik
Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

doktersehat-isi-ulang-botol-air-minum-kotor-bakteri

DokterSehat.Com– Air kemasan botol yang kerap kita beli saat membutuhkan minuman di luar rumah ternyata telah terkontaminasi dengan partikel plastik yang masuk saat proses pengemasan. Fakta mengejutkan ini didapatkan dari sebuah penelitian yang dilakukan di 9 negara berbeda dan dipublikasikan hasilnya pada Rabu, 14 Maret 2018 lalu.

Dikutip dari Channel News Asia, peneliti mikroplastik bernama Sherri Mason dari The State University of New York, Fredonia menemukan fakta bahwa 93 persen dari 250 air kemasan botol yang didapatkan dari Brasil, Tiongkok, India, Indonesia, Kenya, Lebanon, Thailand, Meksiko, dan Amerika Serikat telah terkontaminasi kandungan plastik seperti polypropylene, nylon, dan polyethylene terephthalate (PET), yang bisa ditemukan dalam tutup botol. Kebanyakan dari merek air kemasan botol ini tergolong dikenal luas dan sering dibeli masyarakat.

Mason menyebutkan bahwa 65 persen dari partikel tersebut berbentuk pecahan, bukan fiber. Sepertinya, kontaminasi ini didapatkan saat proses pengemasan botol air kemasan tersebut. Mason juga menyebutkan bahwa di dalam sebuah botol air minum, kita bisa menemukan hingga 10 ribu partikel plastik. Rata-rata 10,4 partikel plastik berukuran 0.10 mm bisa ditemukan untuk setiap liter air. Bahkan, untuk ukuran partikel yang lebih kecil, jumlahnya bisa mencapai 325 untuk setiap liternya.

Meskipun dampak dari kontaminasi plastik ini belum jelas bagi kesehatan tubuh, ada dugaan bahwa hal ini bisa memicu kanker, penurunan jumlah sperma pria, dan peningkatan risiko untuk terkena ADHD dan autisme. Mason pun menyebutkan bahwa air keran yang dimasak jauh lebih aman dari air kemasan botolan.

Melihat adanya fakta ini, ada baiknya memang kita membawa bekal air minum dari dalam rumah alih-alih membelinya di luar rumah agar tidak mudah terkena kontaminasi partikel plastik.

Sobat Sehat sering beli minuman botolan tidak?



Selain sebagai media informasi kesehatan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Akibat Makan Katak, Ada Cacing Pita di Payudara Wanita Ini

Akibat Makan Katak, Ada Cacing Pita di Payudara Wanita Ini
Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

DokterSehat.Com– Sebagian masyarakat Indonesia suka makan katak. Namun, makanan dari bahan katak ini biasanya sudah diolah sedemikian rupa sehingga aman untuk dikonsumsi. Hal yang berbeda justru dilakukan wanita asal Tiongkok yang tidak disebutkan namanya ini. Ia mengonsumsi 5 katak hidup dan kini harus menjalani operasi akibat adanya cacing pita berukuran besar yang bersarang di payudaranya.

Photo Source: Flickr/ David Short

Dikutip dari New Strait Times, wanita yang berasal dari Jiaqing, Provinsi Zhejiang ini mengonsumsi kodok mentah demi mengatasi rematik pada kakinya pada 2013 lalu. Bukannya sembuh, wanita ini justru merasa semakin tidak nyaman dengan kondisi tubuhnya.

Ia pun mengeluhkan sakit dan gatal-gatal pada perut, payudara, dan matanya. Rasa sakit ini semakin menjadi dan kemudian diiringi dengan kemunculan benjolan pada payudara kanan sehingga membuatnya memilih untuk pergi ke dokter.

Setelah mendapatkan pemeriksaan, dokter meminta sang wanita untuk segera menjalani operasi untuk menghilangkan benjolan tersebut. Saat operasi inilah dokter menemukan cacing pita sepanjang 13 cm. Cacing ini berjenis Sparganum Mansoni yang biasa ditemukan di usus kucing atau anjing, namun sangat jarang ditemukan pada tubuh manusia.

Setelah menjawab beberapa pertanyaan, dokter pun menyimpulkan bahwa cacing ini sepertinya berasal dari larva yang masuk ke dalam tubuh setelah sang wanita mengonsumsi katak lima tahun sebelumnya.

Mengonsumsi makanan mentah memang bisa memberikan risiko kesehatan tersendiri. Di kasus yang terjadi Januari 2018 lalu, seorang pria dari California, Amerika Serikat, harus dilarikan ke rumah sakit karena cacing pita sepanjang 1,6 meter berusaha untuk keluar dari anusnya. Pria ini ternyata suka mengonsumsi ikan mentah, khususnya salmon sashimi hampir setiap hari. Dari makanan inilah larva cacing ini diduga berasal.

Kalau Sobat Sehat apakah juga suka makan katak?



Selain sebagai media informasi kesehatan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Kasihan, Atlet Peraih Medali Olimpiade Ini Sakit Mental

Kasihan, Atlet Peraih Medali Olimpiade Ini Sakit Mental
Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

DokterSehat.Com– Kim Bo Reum, atlet speed skating dari Korea Selatan yang baru saja berlaga di Olimpiade Musim Dingin beberapa saat lalu masuk ke rumah sakit karena mengalami gangguan kecemasan setelah mendapatkan kecaman dari warga Korea Selatan akibat komentarnya sendiri.

Photo Source: AP/ John Locher

Dikutip dari Yahoo, Kim berlaga di beberapa nomor olahraga skating, salah satunya adalah Women’s 500 m Team Pursuit. Kim bertanding bersama dengan rekannya, Park Ji Woo dan Noh Seon Yeong. Mereka bertanding sangat baik, namun, Noh terjatuh sehingga waktu total dari tim tersebut kalah dari tim negara lainnya.

Dalam sebuah wawancara, Kim menyuarakan kekecewaannya pada rekannya yang terjatuh tersebut, Noh yang terlihat menangis karena kesalahannya pun semakin bersedih karena rekannya juga menyalahkannya.

Bukannya mendapatkan simpati, komentar Kim justru mendapatkan kecaman dari warga Korea Selatan. Bahkan, lebih dari 600 ribu orang menandatangani petisi yang meminta pemerintah mengeluarkan Kim dan Park dari tim nasional karena dianggap merusak keharmonisan.

Mengingat Korea Selatan dikenal sebagai negara dengan masalah perundungan yang sangat parah, Komentar Kim juga dianggap sebagai salah satu tindakan perundungan sehingga mendapatkan kecaman hebat. Meskipun Olimpade sudah usai, rasa cemas akan kecaman warga masih dirasakan oleh Kim dan membuatnya takut untuk pergi ke luar rumah.  Ibunda Kim juga mengalami stres parah akibat hal ini.

Atlet yang masih berusia 25 tahun ini sebenarnya memenangkan medali perak di nomor lainnya. Saat menerima medali, Kim yang terlihat tidak bahagia bahkan sampai bersujud di depan penonton sebagai perwujudan dari permintaan maaf atas komentarnya sebelumnya. Namun, publik sudah terlanjur marah. Sebagian warga bahkan sampai meminta pemerintah melucuti medalinya.

Speed Skating termasuk dalam olahraga yang terkenal di Korea Selatan. Di Olimpiade Musim Dingin terakhir, cabang olahraga ini menyumbang 13 dari total 17 medali yang didapatkan negara tersebut.

Sobat Sehat sebaiknya berhati-hati saat berkata pada orang lain agar tidak menyakiti hatinya, ya?



Selain sebagai media informasi kesehatan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Tragis! Bocah Ini Tewas Setelah Terkunci di Mobil 4 Jam

Tragis! Bocah Ini Tewas Setelah Terkunci di Mobil 4 Jam
Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

DokterSehat.Com– Seorang wanita yang berasal dari Port Dickson, Malaysia bernama Hasmah Masroh mengalami sebuah kejadian yang sangat memilukan. Ibu berusia 32 tahun ini mendapati anaknya yang baru berusia 2 tahun meninggal dunia akibat kecerobohannya sendiri.

Photo Source: nst.com.my/ Hazreen Mohamad

Dikutip dari New Strait Times, Nur Awfa Humaisha Muhammad Ali Riduan di bawa sang ibu dengan mobil untuk menuju ke Port Dickson Vocational College, tempat ibundanya bekerja. Namun, tatkala sampai di tujuan, sang ibu lupa jika anaknya masih di jok belakang mobil. Nur Awfa yang masih dalam kondisi tertidur pun terkunci di dalam mobil yang terparkir saat suhu udara sedang sangat panas.

Pukul 13.00 siang atau empat jam setelah Hasmah memarkir mobilnya, barulah Ia sadar jika sang anak masih tertinggal di mobil. Ia pun langsung berlari ke tempat parkir untuk memeriksa kondisi buah hatinya. Nur Awfa yang ditemukan sudah tidak dalam kondisi sadar pun langsung dibawa ke Port Dickson Health Clinic. Namun, dokter disana justru mengonfirmasi jika sang anak sudah tidak lagi bernyawa.

Menurut para dokter, Nur Awfa mengalami heat stroke, kondisi dimana tubuh terpapar suhu yang sangat panas sehingga memicu peningkatan suhu tubuh dengan drastis yang akhirnya membuat korban kehilangan kesadaran.

Menurut salah satu rekan kerjanya, biasanya Hasmah akan menitipkan Nur Awfa ke pengasuh yang ada di kawasan Kampung Paya sebelum berangkat kerja. Ia menduga Hasmah sedang banyak pikiran karena pekerjaannya memang sedang sangat sibuk sehingga membuatnya lupa akan keberadaan anaknya.

Muhammad Ali Riduan, suami Hasmah, berusaha untuk tegar menerima kenyataan ini dan menganggap hal ini murni sebagai sebuah kecelakaan yang tak disengaja. Sementara itu, Zainudin Ahmad yang merupakan salah satu petugas kepolisian dari Port Dickson menyebut mereka masih menginvestigasi kasus ini.

Sobat Sehat sering membawa anak kecil di dalam mobil? Jangan sampai kejadian ini terulang, ya!



Selain sebagai media informasi kesehatan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Terharu! Suami Berikan Ginjal Untuk Kado Hari Pernikahan

Terharu! Suami Berikan Ginjal Untuk Kado Hari Pernikahan
Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

DokterSehat.Com– Monica Calle menderita penyakit ginjal polikistik selama bertahun-tahun. Demi menjaganya tetap hidup dalam kondisi sehat, Calle harus sering melakukan dialysis yang cukup menyakitkan. Namun, di ulang tahun pernikahannya dengan Cesar Calle yang ke 23, Ia sepertinya mendapatkan solusi agar tak lagi melakukan terapi tersebut karena suaminya mendonorkan ginjal kepadanya.

Photo Source: Memorial Transplant Institute

Dikutip dari Foxnews, pasangan ini melakukan operasi transplantasi ginjal selama 5 jam pada 19 Februari 2018 lalu di Memorial Regional Hospital yang ada di Hollywood, California. Monica yang ternyata adalah karyawan dari rumah sakit tersebut menceritakan secara detail pengalamannya dengan masalah kesehatannya dalam sebuah wawancara.

“Rasanya sangat menyakitkan. Aku ketakutan dan tidak tahu apakah akan ada keajaiban untuk kesembuhanku atau tidak,” jelasnya.

Suaminya, Cesar, menawarkan ginjalnya untuk Monica. Desember 2017 lalu, keduanya lalu melakukan pengecekan untuk mengetahui apakah memang Cesar bisa menjadi donornya atau tidak. Sebagai informasi, mencari donor yang pas bukanlah hal yang mudah dan bisa saja seseorang harus menunggu bertahun-tahun lamanya hanya demi mendapatkan donor yang tepat.

Dr. Juan Arenas, ahli bedah dari rumah sakit tersebut menyebutkan bahwa para tenaga medis cukup terkejut tatkala tahu bahwa Cesar bisa menjadi donor istrinya. Menurut Dr. Arenas, Monica sangatlah beruntung karena kemungkinkan ini sangat jarang terjadi di seluruh dunia. Setelah tes ini, keduanya pun melakukan persiapan demi melakukan transplantasi ginjal.

Monica menyebutkan bahwa Ia sama sekali tidak menyangka jika pria yang Ia nikahi akan menjadi malaikat yang menyelamatkan nyawanya. Wanita yang kini berusia 39 tahun ini menyebut dirinya seperti pemenang undian jutaan Dollar. Padahal, sebelumnya Ia sudah pasrah dengan kondisi kesehatannya. Kini, Ia tak perlu lagi melakukan dialysis dan melakukan hal-hal yang tidak mampu Ia lakukan sebelumnya.

Sungguh romantis ya pasangan ini, Sobat Sehat?



Selain sebagai media informasi kesehatan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Lama Tinggal di Luar Angkasa, DNA Astronot Ini Tak Lagi Sama Dengan Kembarannya

Lama Tinggal di Luar Angkasa, DNA Astronot Ini Tak Lagi Sama Dengan
Kembarannya
Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Expedition 45/46 Commander, Astronaut Scott Kelly along with his brother, former Astronaut Mark Kelly speak to news media outlets about Scott Kelly's 1-year mission aboard the International Space Station. Photo Date: January 19, 2015. Location: Building 2. Photographer: Robert Markowitz

DokterSehat.Com– Scott Kelly, salah seorang astronot yang sudah kembali ke bumi setelah tinggal di luar angkasa selama 2 tahun, mengalami perubahan pada tubuhnya. Memang, secara fisik, Ia masih terlihat sama saja. Namun, 7 persen gen dalam tubuhnya telah berubah dan tak lagi sama dengan kembar identiknya, Mark Kelly.

Photo Source: TBR News Media/Robert Markowitz

Dikutip dari CNN, penelitian yang dilakukan pada tubuh Scott yang kini sudah pensiun dari NASA ini dipublikasikan dalam 2018 Investigator’s Workshop for NASA’s Human Research Program, Januari lalu. Dalam penelitian ini, para pakar mengecek kadar metabolit, sitokin, dan protein pada tubuh Scott. Pengecekan ini dilakukan sebelum, saat dan setelah misinya di luar angkasa.

Para peneliti kemudian menemukan bahwa berada di pesawat luar angkasa yang memiliki kadar oksigen terbatas mampu meningkatkan inflamasi dan mengubah kadar nutrien dengan drastis yang bisa mengubah ekspresi gen. Chris Mason dari Weill Cornell Medicine menyebut perubahan gen pada Scott ini sebagai “gen luar angkasa”.

Begitu sampai ke Bumi, 93 persen dari ekspresi gen pada tubuh Scott memang kembali ke bentuk asalnya. Namun, beberapa ratus “gen luar angkasa” ternyata masih tetap ada dan bahkan ada yang bermutasi.

Menurut Mason, di dalam tubuh Scott terjadi hipoksia, kondisi yang membuat jaringan tubuh kekurangan asupan oksigen. Saat berada di luar angkasa, tingginya kadar karbondioksida dan rendahnya kadar oksigen di dalam pesawat membuatnya mengalami hal ini. Selain itu, panjang telomere yang berbentuk seperti topi pada ujung kromosom juga mengalami perubahan ukuran panjang dengan signifikan. Hal inilah yang juga ikut memengaruhi perubahan DNA pada tubuh Scott.

Penelitian ini sangatlah penting untuk mempertimbangkan apakah akan terjadi perubahan pada tubuh manusia jika harus melakukan perjalanan ke luar angkasa atau jika kita ingin pindah ke planet lain di masa depan.

Sobat Sehat tertarik untuk menjadi astronot?



Selain sebagai media informasi kesehatan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.